Baru

Friday, September 1, 2017

Bagaimanakah Ibadah Qurban Ditinjau Dari Segi Komunikasi?

Bagaimanakah Ibadah Qurban Ditinjau Dari Segi Komunikasi?
Perayaan Idul Adha oleh umat Islam di seluruh penjuru dunia tak dapat dipisahkan dengan ibadah haji dan qurban. Tentu kita semua sudah tak asing dengan ibadah qurban yang dilaksanakan setiap tahun pada perayaan Idul Adha. Ibadah qurban merupakansalah satu ibadah tertua yang disyariatkan Allah SWT, juga dikenal dengan ibadah “syar’u manqoblana” yang artinya adalah syariat yang sudah diwajibkan sebelum ummat Nabi Muhammad SAW.

Segala sesuatu yang diperintahkan Allah SWT tentu memiliki hikmah dan pelajaran di dalamnya, begitupun ibadah qurban. Kandungan qurban tidak hanya sekedar mengalirkan darah binatang yang disembelih, tidak hanya memotong hewan qurban, tetapi lebih dari itu, berqurban merupakan bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT untuk benar-benar mendapat ridha-Nya. Kurban adalah wujud pengabdian seorang hamba kepada Allah untuk turut serta memberikan kebahagiaan kepada saudara seiman lain. Tidaklah berlebihan bagi sebagian orang mengganggap berat untuk melaksanakan ibadah lintas generasi ini, namun akan terasa ringan apabila dilaksanakan oleh hamba yang benar-benar menyadari bahwa semua yang dia miliki merupana titipan Allah SWT.

Lalu bagaimanakah ibadah qurban jika ditinjau dari segi komunikasi? Apakah qurban dipandang hanya merupakan ritual keagamaan semata yang tidak ada kaitanya dengan komunikasi? Tentu saja tidak demikian, qurban merupakan komunikasi simbolik.

Simbol merupakan sesuatu yang tak dapat dipisahkan dari setiap proses komunikasi. Hampir seluruh pernyataan dan tingkah laku manusia baik yang ditujukan untuk kepentingan dirinya, maupun untuk kepentingan orang banyak selalu dinyatakan dalam bentuk simbol. Hubungan antara pihak-pihak yang ikut serta dalam proses komunikasi banyak ditentukan oleh simbol atau lambang-lambang yang digunakan dalam berkomunikasi.

Seorang penyair yang mengagumi sekuntum bunga, akan mengeluarkan pernyataan lewat bahasa “alangkah indahnya bunga ini”, ataukah seorang polisi lalau lintas yang tidak bisa berdiri terus dipersimpangan jalan, peranannya dapat digantikan lewat rambu-rambu jalan atau lampu pengatur lalu-lintas (traffic light). Simbol merupakan hasil kreasi manusia dan sekaligus menunjukkan tingginya kualitas budaya manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya.

Simbol dapat dinyatakan dalam bentuk bahasa lisan atau tertulis (verbal) maupun melalui isyarat-isyarat tertentu (non verbal). Simbol membawa pernyataan dan diberi makna oleh penerima. Proses pemberian makna terhadap simbol-simbol yang digunakan dalam berkomunikasi, selain dipengaruhi faktor budaya, juga faktor psikologis, terutama pada saat pesan ditafsirkan oleh penerima, begitu juga dengan Ibadah Qurban yang menjadi komunikasi simbolik yang bermain pada tataran symbol dengan mengorbankan binatang yang dimaknai sebagai komunikasi vertikal seorang hamba sebagai wujud syukur dan kepatuhan terhadap sang pencipta serta komunikasi horizontal sebagai wujud kepedulian sosial yang tinggi antar sesama.

Menurut Ali Syariati, intelektual asal Iran, peristiwa qurban sarat akan makna simbolik, dan termasuk didalamnya adalah proses komunikasi, di antaranya menghargai harkat martabat manusia untuk tetap hidup dan menekankan kehidupan sosial sebagai wujud kepasrahan yang total kepada Allah SWT. Namun, dalam segala perwujudannya, dulu dan sekarang, makna qurban telah bergeser menjadi sebuah tradisi ritual belaka yang tidak memiliki nilai apa-apa. Memaknai komunikasi simbolik ibadah qurban bisa dilihat dari pemahaman akan makna simbolik qurban itu sendiri, diantaranya:

Baca Juga:

Pertama, dalam ibadah qurban yang menjadi simbolnya adalah mengorbankan binatang ternak. Mengagapa binatang ternak yang harus diqurbankan? Disini bisa dipentik makna bahwa Islam berupaya mengkomunikasikan kepada manusia menggunakan simbol-simbol universal berupa binatang yang dipahami sebagai simbol kejahatan, keburukan dan kerakusan yang akan berimplikasi kepada kehancuran dan kebinasaan. Melalui momentum ibadah qurban ini Islam melakukan komunikasi universal kepada umat manusia bahwa dengan memotong binatang ternak diharapkan sifat-sifat dan karakter kebinatangan yang terdapat dalam diri manusia bisa terkikis seiring dengan lenyapnya darah dari binatang tersebut.
Kedua, meninggikan harkat martabat manusia. Momentum qurban ini tidak bisa dipahami sebagai ibadah ritual belaka yang gersang akan makna. Dalam nuanasa Idul Adha ini Islam mengkomunikasikan kepada sekalian alam bahwa ini adalah wujud kepasrahan (tawakkal) Nabi Ibrahim secara totalitas kepada Allah SWT. Bahkan lebih dari itu, qurban mempunyai makna pembebasan manusia dari sifat-sifat kebinatangan, dari kesemena-menaan dan kesewenang-wenangan terhadap manusia. Ali Syari’ati menjelaskan bahwa ketika Allah SWT mengganti Nabi Ismail dengan seekor domba, tersirat pesan kepada manusia agar tidak lagi menginjak-injak harkat martabat kemanusiaannya.
Ketiga, Islam adalah agama yang damai. Meminjam apa yang pernah disampaikan oleh Mohammad Asrori Mulky bahwa melalui ibadah qurban, Islam ingin mengkomunikasikan secara simbolik bahwa Tuhannya Ibrahim bukanlah Tuhan yang haus darah dan suka berperang. Dia adalah Tuhan yang ingin menyelamatkan dan membebaskan manusia dari tradisi yang tidak menghargai manusia dan kemanusiaan, dan dari tradisi yang suka mempersembahkan nyawa manusia untuk para dewa dan roh suci. Dia adalah Tuhan yang ingin menyelamatkan manusia dari tradisi yang sering menumpahkan darah kepada tradisi yang penuh dengan rahmat dan anugerah.
Keempat, kesalehan sosial. Dalam qurban, seperti juga zakat, haji, puasa dan shadaqah, terkandung di dalamnya nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Islam adalah agama yang tidak dapat dipisahkan dari dimensi sosialnya. Dalam konteks ini, ibadah qurban tidak boleh hanya dipahami sebagai upaya untuk mencapai kemaslahatan ukhrowi belaka, tapi lebih dari itu bertujuan untuk terciptanya kemaslahatan dan kebaikan duniawi. Karena setiap pensyariatan dalam Islam, terkandung tujuan syariat (maqhasid as-syari’ah), yaitu tercapainya kemaslahatan dan kebaikan bagi umat manusia di dunia dan akhirat. Sehingga tidak berlebihan bahwa ibadah qurban akan mewujudkan kesalehan sosial bagi pelakunya.
Kelima, keadilan sosial. Kalau kita coba kaitkan ibadah qurban dengan fenomena sosial di negara kita, Indonesia, sesungguhnya persoalan paling mendasar yang sedang kita hadapi adalah persoalan kemiskinan dan ketidakadilan. Kita melihat, kemiskinan lebih banyak dirasakan orang, sementara kekayaan hanya dicicipi segelintir orang. Karena itu, persoalan utama yang harus kita perjuangkan adalah bagaimana kita bisa menegakkan keadilan dalam struktur sosial. Kalau persoalan itu yang kita hadapi, maka relavansi Idul Qurban saat ini adalah mewujudkan keadilan sosial diantara manusia, memberantas kemiskinan, sehingga kekayaan tidak menumpuk pada sekelompok orang saja. Inilah komunikasi simbolik ajaran Islam dalam tataran keadilan sosial.

Meminjam pendapat Mohamad Asrori Mulky yang mengatakan ada dua hal yang penting terkandung di dalam ibadah qurban. Pertama, semangat ketauhidan atau keesaan Tuhan yang tidak lagi membeda-bedakan manusia yang satu dengan lainnya. Di sini juga terkandung pesan pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Allah, seperti para dewa dan roh jahat. Kedua, qurban juga dapat diletakkan dalam kerangka penegakan nilai-nilai kemanusiaan, seperti menyantuni fakir-miskin, saling membantu tanpa dilatarbelakangi kepentingan-kepentingan di luar pesan ketuhanan itu sendiri.

Ibadah qurban pertama kali diperintahkan kepada Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS, keduanya adalah sosok yang penuh teladan baik bagi orang tua maupun anak. Ketika kenakalan remaja meningkat, penting bagi orang tua memikirkan gaya berkomunikasi dengan anak-anaknya. Sebetulnya, orang tua bisa meniru gaya komunikasi nabi Ibrahim dengan anaknya. Gaya komunikasi nabi Ibrahim yang dimaksud adalah seperti yang diabadikan dalam Al-Quran surat Ash-Shafat ayat 102. Meskipun begitu gaya komunikasi ini berlaku universal dan bisa ditiru oleh orang tua lintas keyakinan.

Surat Ash-Shafat ayat 102 bercerita tentang dialog nabi Ibrahim dengan anaknya Ismail tentang penyembelihan (kurban). Saat itu, Ibrahim mengatakan bahwa ia bermimpi melihat dirinya menyembelih si anak (Ismail). Dalam ajaran Islam, ayat inilah yang dijadikan dalil untuk melakukan penyembelihan (kurban) pada hari raya Idul Adha.Mari kita perhatikan surah Ash-Shaffat ayat 102 yang menceritakan dialog antara nabi Ibrahim dengan anaknya, Ismail. Redaksi ayat diterjemahkan sebagai berikut, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Yang digunakan untuk menjelaskan ayat ini adalah menggunakan analisa wacana pragmatik yang kerap digunakan dalam studi bahasa dan komunikasi. Analisa wacana adalah studi tentang struktur pesan dalam komunikasi. Sementara pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan bahasa itu digunakan di dalam komunikasi. Dengan definisi ini, maka analisa wacana pragmatik dapat diartikan sebagai telaah mengenai makna dan fungsi bahasa dalam proses komunikasi.

Topik pembicaraan antara Ibrahim dan Ismail adalah mimpi Ibrahim. Dalam mimpi itu, Ibrahim melihat dirinya menyembelih anaknya sendiri. Dalam dialog Ibrahim meminta anaknya memikirkan mimpi itu. Tetapi jawaban yang muncul dari Ismail adalah meminta Ibrahim melaksanakan perintah Allah. Mari kita perhatikan dialognya.

Ibrahim berkata, “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu?”
Ismail menjawab, “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Ibrahim sama sekali tidak mengatakan bahwa Allah memerintahkan dirinya untuk menyembelih Ismail. Tetapi Ismail memaknai mimpi yang diceritakan ayahnya itu wahyu Allah untuk menyembelihnya. Maka timbul pertanyaan mengapa Ismail begitu percaya bahwa cerita ayahnya adalah wahyu dari Allah? Dalam kajian komunikasi, penerima pesan (komunikan) percaya kepada penyampai pesan (komunikator) apabila komunikator memiliki kredibilitas tinggi. Everett M Rogers (1983) mengatakan kredibilitas adalah tingkat di mana komunikator dipersepsi sebagai suatu kepercayaan dan kemampuan oleh penerima. Menurut Alexis S Tan (1981) kredibilitas sumber terdiri dari dua unsur, yaitu keahlian dan kepercayaan. Keahlian diukur dengan sejauh mana komunikan menganggap komunikator mengetahui jawaban yang benar, sedangkan kepercayaan dioperasionalisasikan sebagai persepsi komunikan bahwa komunikator tidak memihak dalam penyampaian pesan.

Dua hal tersebut dimiliki Ibrahim, sehingga ia menjadi seorang komunikator dengan kredibilitas tinggi di hadapan anaknya, Ismail. Merujuk al-Quran, diceritakan banyak peristiwa yang membuktikan Ibrahim adalah orang yang berstatus nabi. Mulai dari pertentangannya dengan ayahnya sendiri, sampai kemudian Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud. Peristiwa hijrahnya ke Mekkah, juga berkaitan dengan posisinya sebagai Nabi. Peristiwa tersebut juga diketahui Ismail sebagai seorang anak. Hal itulah yang mengokohkan posisi Ibrahim di mata Ismail. Sehingga ketika Ibrahim menceritakan mimpi, Ismail langsung memahami maksud sang ayah.Proses komunikasi akan berlangsung efektif, jika komunikator dan komunikan memiliki kesamaan. Wilbur Schramm menyebut ada dua kesamaan yang membuat komunikasi efektif, yaitu frame of reference (kerangka acuan) dan filed of experience (bidang pengalaman). Schramm menyatakan bahwa filed of experience atau bidang pengalaman merupakan faktor yang amat penting untuk terjadinya komunikasi. Apabila bidang pengalaman komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komunikasi akan berlangsung dengan lancar. Sebaliknya jika pengalaman komunikan tidak sama dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk mengerti satu sama lain, atau dengan kata lain situasi menjadi tidak komunikatif. (Effendy,2003:30-31).

Merujuk ke surah Ash-Shafat ayat 102 itu, disebutkan bahwa ada kesamaan pengalaman dan pengetahuan antara Ibrahim dan Ismail. Hal itu dapat dilihat dari redaksi awal ayat, “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim….”. Ada dua hal yang ditunjukkan dari redaksi ayat ini. Pertama, usia Ismail saat itu berada pada usia memahami perkataan dan peristiwa dengan baik. Kedua, Ibrahim dan Ismail melakukan berbagai macam kegiatan bersama. Walau dalam ayat tersebut tidak diceritakan secara detil bentuk usaha/ kegiatan yang dilakukan keduanya.Tujuan yang ingin dicapai Ibrahim dalam proses komunikasi adalah kerelaan Ismail untuk “dikorbankan”. Selain itu, Ibrahim berharap Ismail mengetahui bahwa “penyembelihan” itu sebagai bentuk penghambaan kepada Allah. Dua target yang ingin dicapai Ibrahim dalam komunikasi itu berhasil terpenuhi. Hal itu disebabkan, kesamaan frame of reference (kerangka acuan) dan filed of experience (bidang pengalaman). Kondisi itu juga ditopang dengan usia Ismail saat itu yang mampu berfikir dengan baik.

Tan menyebutkan unsur kredibilitas adalah kepercayaan. Komunikan percaya komunikator tidak memihak dalam penyampaian pesan. Saat berdialog dengan Ismail, kalimat yang disampaikan Ibrahim tidak menunjukkan bahwa peristiwa penyembelihan itu untuk kepentingan Ibrahim. Kalimat yang disampaikan Ibrahim hanya menceritakan mimpi apa adanya. Ibrahim tidak menambahkan keterangan pada mimpi itu sebagai wahyu dari Allah. Kalimat itu berupa, “Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu”. Kepercayaan Ismail kepada Ibrahim semakin menguat ketika Ibrahim meminta pendapat Ismail tentang perisitiwa itu dengan kalimat, “Maka fikirkanlah apa pendapatmu?”Kepercayaan Ismail itu muncul karena kesamaan pengalaman dan pengetahuan antara Ibrahim dan Ismail. Peristiwa yang dialami bersama, membuat Ismail menempatkan Ibrahim sebagai seseorang yang melakukan sesuatu semata-mata karena perintah Tuhan. Ismail percaya ayahnya tidak mempunyai kepentingan pribadi, kecuali semata-mata untuk beribadah kepada Allah. Dengan pemahaman seperti itu, Ismail juga harus mengerjakan perintah Tuhan, karena Ismail juga mengakui dirinya sebagai hamba Allah.

Dari uraian di atas, dapat diambil point-point sebagai acuan dalam berkomunikasi kepada anak sebagai berikut:
Pertama, orang tua hendaknya selalu melakukan kegiatan bersama sehingga terbentuk kesamaan frame of reference (kerangka acuan) dan filed of experience (bidang pengalaman) antara orang tua dan anak.
Kedua, menyelaraskan antara perkataan dan perbuatan. Hal inilah yang akan meningkatkan kredibilitas orang tua di mata anak. Tan menyebutkan kredibilitas adalah penilaian komunikan terhadap komunikator bahwa komunikator memiliki pengetahuan dan tidak memihak atas pesan yang disampaikan. Penilaian komunikan ini bisa terwujud jika komunikator (orang tua) menyelaraskan antara perkataan dengan perbuatanya.
Ketiga, menyesuaikan pesan/informasi yang disampaikan kepada anak sesuai dengan usia sang anak. Seringkali, orang tua tidak menyesuaikan perkataan (informasi) yang disampaikan dengan usia anak. Kondisi ini membuat anak tidak mampu menalar pesan yang disampaikan dengan baik. Hasilnya, tujuan komunikasi tidak akan tercapai.

Ketiga point di atas hendaknya bisa menjadi acuan para orang tua dalam berkomunikasi kepada anaknya. Jika hal ini dilakukan, komunikasi yang dilakukan pasti akan berhasil. Hal itu telah dibuktikan oleh Ibrahim. Pertanyaan adalah, apakah orang tua mampu mengikuti gaya komunikasi yang dicontohkan Ibrahim itu?



Sumber:
https://www.dakwatuna.com/2014/04/15/49631/meniru-gaya-komunikasi-ibrahim-analisa-wacana-pragmatik-surat-ash-shafat-ayat-102/#ixzz4rPAwM4fx
https://uin-suska.ac.id/2017/08/29/komunikasi-simbolik-ibadah-qurban/

No comments:

Post a Comment